Minggu, 18 Mei 2014

Mengenang musibah Tim SEVEN SUMMIT MAPALA UI di Puncak ACONCAGUA, CHILE

Cover buku Catatn Sahabat sang Alam ( Norman Edwin)
Kompas, Kamis, 25 Mar 1992.
Berita terakhir dari Kedutaan Besar RepublikIndonesia di Cile menyampaikan hari Minggu (22/3) telah menerima telepon dari Puenta del Inca, kota terakhir di Argentina sebelum Puncak Aconcagua di Pegunungan Andes Amerika Selatan, dua orang anggota tim Mapala UI yaitu Norman Edwin(37) dan Didiek Samsu (28), mengalami musibah. Hari Senin (23/3) sekitar pukul 19.30 waktu setempat atau pukul 05.30 pagi hari Selasa (24/3), diperoleh berita dari Kedutaan Besar Argentina di Santiago, Cile, tim SAR Argentina sudah melakukan pencekan atas kemungkinan musibah itu dan sudah menemukan salah seorang dari mereka, tanpa dirinci kondisinya. Seorang lagi, sampai berita ini diturunkan masih terus dicari. Sampai berita ini diturunkan, berita musibah yang menimpa wartawan Kompas – Norman –dan wartawan Majalah Jakarta Jakarta – Didiek Samsu, masih belum dapat dikonfirmasikan peristiwa dan rincian musibah sebenarnya. Pendakian kedua pendaki Indonesia ini, sebetulnya merupakan pendakian ulangan. Saat pertama, rombongan ekspedisi berjumlah lima anggota (Rudy Nurcahyo, 24, Mohammad Fayez, 23, serta satu anggota putri Dian Hapsari, 24) ini sudah melakukan pendakian, tanggal 12 – 27 Februari 1992. Namun dua hari menjelang tiba di puncak, Fayez mendapat kecelakaan. “Tangan saya terkilir, lalu Norman dan Rudy menolong saya, namun kami terperangkap badai salju. Baru lima hari kemudian, kami bertiga tiba di Puenta del Inca. Sedangkan Didiek bersama Dian, sudah tiba lebih dulu ke bawah,” ujar Fayez yang Jumat 13 Maret sudah tiba di Jakarta, bersama Dian.
Setelah dirawat di rumah sakit, ternyata Rudy dan Norman harus diamputasi ruas jari mereka, akibat serangan radang beku (frost bite). “Norman dipotong satu ruas jari tengah tangan kirinya, sedang Rudy diamputasi satu ruas jari telunjuk, tengah, jari manis dan kelingking tangan kirinya, serta satu ruas jari manis tangan kirinya,’ tutur Fayez. Rudy harus dirawat di rumah sakit di Santiago, sedangkan Norman bersama Didiek, pimpinan dan wakil pimpinan tim pendakian – memutuskan untuk mendaki ulang.”Saya bersama Dian pulang lebih dahulu, karena tiket hampir kadaluwarsa,” kata Fayez. Norman yang baru sembuh, bersama Didiek mendaki lagi.Pendakian kali ini menurut rencana akan mengambil rute timur yang “normal” (berbeda dengan pendakian pertama di jalur barat yang lebih berat). Menurut rencana kedua wartawan pendaki ini, perjalanan mereka untuk mencapai puncak kelima dari tujuh puncak tertinggi di tujuh benua dunia, hanya berlangsung antara tanggal 11 sampai 21 Maret 1992.“Saya rasa, petugas SAR yang mencatat rencana Norman dan Didiek, setelah lewat tanggal itu segera mencari. Akhirnya, ya itu, fax dari KBRI menyatakan kalau tim SAR menemukan salah satu dari mereka tanpa rincian musibahnya, serta menyebut kalau seorang lagi, entah siapa, belum ditemukan,” ungkap Fayez.
Badai Salju
KBRI Cile di Santiago, dikabarkan kini berupaya mendatangi langsung tempat kejadian peristiwa di Puenta del Inca. Namun menurut kabar terakhir, badai salju melanda pegunungan tengah itu, hingga helikopter carteran pun susah melintasinya. Sedangkan dari Puenta del Inca yang tak punya hubungan telepon, sumber di sana menyatakan kalau tim SAR terus sedang mencari dan mengidentifikasi musibah sebenarnya.Rektor UI Prof Dr Sujudi yang sudah menerima kabar ini langsung dari Deplu RI, menyatakan pihak UI tetap memonitor perkembangan kabar musibah ini. Serta akan menghubungi Deplu RI dan beberapa instansi terkait untuk bantuan yang dibutuhkan. Juga direncanakan, tim UI akan mengirim tim pendamping dari Jakarta dalam waktu dekat ini.(bd/sur).
Musibah Puncak Aconcagua: Didiek Meninggal, Norman Dicari Kompas – Kamis, 26 Mar 1992
Musibah Puncak Aconcagua yang menerpa dua anggota Tim Ekspedisi Puncak Tujuh Benua Universitas Indonesia di Argentina, Kedubes RI di Cile mengkonfirmasikan kalau tim SAR Argentina bersama staf KBRI, sudah mengidentifikasi satu jenazah itu Didiek Samsu (30). Sedangkan pendaki lainnya, Norman Edwin (37), sampai berita ini diturunkan masih belum ditemukan di sekitar tempat kejadian – di ketinggian 6.200 meter – menjelang puncak gunung tertinggi di benua Amerika Selatan.Dubes RI untuk Cile, Dr Sukarno Hardjosudarno, menegaskan kepada Kompas: “Jenazah yang kemarin belum dapat diidentifikasi itu, kini sudah pasti Didiek Samsu Wahyu Triachdi. Sedangkan Norman mungkin masih hidup, namun tim SAR sampai kini belum dapat menemukannya,” ujar Sukarno melalui telepon. “Situasi medan di ketinggian 6.400 meter yang kini bercuaca buruk, menyulitkan proses evakuasi dengan helikopter. Tiga staf kami bersama Rudi Nurcahyo – anggota ekspedisi Mapala UI yang baru sembuh setelah diamputasi lima ruas jari tangannya, kini masih memonitor perkembangan SAR itu di Puente del Inca pada ketinggian 2.720 meter.”Dalam teleks terakhir dari KBRI di Cile, dijelaskan Norman sebagai pemimpin tim ekspedisi yang berstatus sebagai wartawan Kompas yang mengambil cuti “di luar tanggungan perusahaan”, diperkirakan mengambil rute menurun melalui Plaza Argentina yang lebih sulit, dibanding rute normal Plaza de Mulas. Dengan rute ini, Norman seharusnya sudah tiba di Plaza Argentina di Puenta del Inca pada tanggal 25 Maret pukul 18.00 waktu setempat atau 26 Maret pukul 05.00 WIB. Selanjutnya menurut teleks KBRI: Bila ternyata Norman Edwin belum tiba di Punta del Inca … maka tim pencari yg sudah berada di lokasi sekitar Plaza Argentina akan memperpanjang pencariannya dua hari lagi.Khususnya soal Didiek Samsu, pihak KBRI di lokasi mengkorfimasi kalau kendala cuaca buruk, serta medan sulit untuk evakuasi jenazah dari ketinggian 6.400 turun ke 4.200 meter, memerlukan waktu sekitar 10 hari. Dari sana, jenazah harus dibawa lagi ke Mendoza di Argentina untuk visum dan perawatan, baru setelah itu diterbangkan helikopter ke Santiago. “Saya memperkirakan sekitar tanggal 5 April, jenazah itu baru dapat kami urus di Santiago, serta mengurus evakuasi secepatnya ke Jakarta,” kata Sukarno melalui telepon perihal jenazah Didiek – pendaki gunung dan arkeolog UI, juga wartawan Majalah Jakarta .
Musibah Kedua
Norman dan Didiek – pimpinan dan wapim ekspedisi ini – di antara ketiga kawan lainnya, Rudi Nurcahyo (24), Mohammad Fayez (23) dan Dian Hapsari (24), memang terbilang jauh lebih berpengalaman dibanding ketiga rekannya. Norman dan Didiek dalam proyek UI mendaki ke-7 puncak benua di dunia, sejauh ini sudah berhasil mengibarkan bendera UI di lima puncak: Puncak Carstensz Pyramid 4.884 m di Irian Jaya, Puncak McKinley 6.194 m di Alaska AS, Puncak Kilimanjaro 5.894 m di Tanzania, Puncak Elbrus 5.633 m di eks-Uni Soviet dan kemungkinan Puncak Aconcagua 6.959 m di Argentina. Sasaran Puncak Aconcagua kali ini, merupakan lanjutan sebelum pendakian ke puncak Vinson Massif 4.877 m di Kutub Selatan dan Puncak Everest 8.848 m di Himalaya. Sebelum pendakian bermusibah ini, tim beranggota lima anggota sebetulnya sudah mendaki melalui rute Plaza Argentina yang lebih sulit dibanding jalur normal – 12 sampai 27 Februari 1992. Sayangnya datang awal musibah, hanya tinggal lima jam di saat tim sudah menjejak di ketinggian 6.400 m. Fayez terjatuh menggelinding sekitar 500 m ke bawah dan terkilir lengan kanannya, mengharuskan tim menolong dan turun kembali untuk perawatan – termasuk amputasi jari tangan – di Santiago. Setelah mendapat perawatan di Santiago, serta memulihkan kesehatan mereka, Norman dan Didiek memutuskan mengirim kembali ke Jakarta Fayez dan Dian, serta Rudi diharuskan istirahat untuk pemulihannya kesehatan. Lalu Norman yang diamputasi satu ruas jari tengah tangan kanannya, bersama Didiek kembali lagi dan menyusun rencana ekspedisi ulangan ke Aconcagua – 11 sampai 20 Maret 1992 – melalui rute normal melalui Plaza de Mulas. Kabar musibah pun tiba, KBRI di Cile pada hari Selasa 24 Maret, mengabarkan musibah Ouncak Aconcagua ini. Bahkan kini dipastikan, Didiek Samsu meningal dunia, Normal Edwin masih dalam pencarian.Sore tadi, pihak Rektorat UI sudah melaporkan musibah ini ke Deplu RI, Mensesneg dan Kantor Menpora. Juga keluarga Achmad Effendi sudah mengetahui kepastian musibah putra mereka – Didiek Samsu. Begitu pun Karina Arifin dan Melati – istri dan putri Norman Edwin, sudah menerima kabar tak menyenangkan ini. Diharapkan dalam waktu singkat, Universitas Indonesia akan mengirimkan tim pendukung yang akan bekerja sama dengan KBRI di Cile, mengurus evakuasi Didiek Samsu dan mencari Norman Edwin.(sur/bd). Musibah Aconcagua.
Badai Salju Menghambat Pencarian
Kompas – Jumat, 27 Mar 1992
Badai salju di Gunung Aconcagua, Argentina, yang sudah berlangsung sejak hari Kamis (26/3) pagi sekitar pukul 05.00 pagi WIB atau malam hari Rabu (25/3) sekitar pukul enam petang waktu Argentina, menghambat pencarian Norman Edwin. “Pencari menghentikan usahanya karena badai salju itu tidak berhenti,” kata Duta Besar Indonesia untuk Cile, Dr Sukarno Hardjosudarno, melalui telepon kemarin malam.Berdasarkan perhitungan Tim SAR Argentina, jika benar Norman Edwin memilih jalur ke Plaza Argentina seperti dugaan sebelumnya, hari Rabu petang sudah tiba di Plaza Argentina, base camp Tim Indonesia (4.200 meter). Tetapi karena badai tidak juga reda Tim SAR tidak bisa mencek ke Plaza Argentina apakah Norman sudah berada di sana. “Diharapkan sore nanti (hari Jumat, 27/3, subuh waktu Jakarta,Red) jika badai reda pencarian bisa dimulai lagi,” tambah Sukarno. Seandainya badai salju belum juga reda, menurut keterangan Sukarno, jenazah Didiek Samsu, salah satu korban yang berada di ketinggian 6.400 meter, paling cepat baru bisa dievakuasi sebulan atau dua bulan lagi. Karena itu, “Sebaiknya mereka yang akan ke sini jangan terburu-buru berangkat. Tunggu kabar dari saya. Takutnya telalu lama di sini. Sebaiknya dikoordinasikan dulu,” saran Sukarno. Dari Kedutaan Besar Indonesia untuk Argentina segera diutus dua orang menuju Mendoza. “Kemungkinan yang berangkat saya dan Pak Gde Arsa Kadjari Sekretaris I,” kata Medy Ch. Djufrie, Sekretaris II KBRI Argentina, kemarin ketika dihubungi melalui telepon di Buenos Aires. Mereka terutama yang akan membuat visum di Mendoza.
Kecepatan 240 km/jam
Memang cuaca adalah hambatan utama pendakian Puncak Aconcagua, setinggi 6.959 meter dari permukaan laut. Badai salju amat ditakuti oleh pesawat-pesawat yang melintas di atasnya. Pada puncaknya tercatat “badai putih” bisa terjadi dengan kecepatan 240 kilometer perjam dan bisa menurunkan suhu hingga minus 42 derajat Celsius. Bagi para pendaki Aconcagua, tantangan terberat adalah masa aklimatisasi, penyesuaian kondisi tubuh terhadap ketinggian. Dari laporan-laporan pendakian yang ada, proses ini rata-rata memakan waktu sekitar satu minggu. (tom/sur)
BADAI SALJU MASIH MENGHAMBAT PENCARIAN
Kompas – Sabtu, 28 Mar 1992
Hujan salju di kawasan Gunung Aconcagua, Argentina, yang sudah berlangsung selama dua hari sejak hari Rabu (25/3), sampai berita ini diturunkan masih belum reda. “Tim evakuasi baru berangkat hari ini (Jumat siang, 27/3 waktu Argentina, Red) kalau hujan salju berhenti. Kalau masih belum berhenti tidak bisa berangkat,” kata Duta Besar Indonesia untuk Cile, Dr Sukarno Hardjosudarno, Jumat(27/3) malam melalui telepon. Sukarno juga menginformasikan semalam, ketebalan lapisan salju di ketinggian 4.200 meter saja sudah mencapai 40 centimeter.Di tempat yang lebih tinggi dikhawatirkan salju lebih tebal lagi. Jenazah Didiek diperkirakan tertutup salju yang cukup tebal sehingga sulit ditemukan kembali saat ini. “Perlu waktu lama untuk mengevakuasinya,” ungkap Sukarno. Norman Edwin sampai Jumat siang waktu Argentina masih belum diketahui berada di mana, karena belum juga kembali. Menurut perkiraan Tim SAR Argentina, kemungkinan Norman menempuh jalur turun menuju ke Plaza Argentina (4.200 meter), jalur yang lebih sulit dibandingkan jalur normal yang lebih mudah melalui Plaza de Mulas (4.200 meter di lokasi berbeda), ulas Sukarno. Kalau musin mendaki Plaza de Mulas dipenuhi oleh para pendaki karena biasanya dijadikan base camp sebelum mulai pendakian melalui jalur normal. Tetapi, “Sekarang sudah lewat musim mendakinya. Musim pendakian biasanya hanya sampai tanggal 15 Maret. Jadi di Plaza de Mulas tidak ada orang sama sekali sekarang,” kata Sukarno menjelaskan. Usaha pertama Tim Pendaki Indonesia mencapai puncak Aconcagua juga melalui jalur Plaza Argentina. Mulai berangkat dari dari Puente del Inca (2.720 meter) tanggal 12 Februari dan tanggal 16 Februari seluruh anggota tim baru tiba di Plaza Argentina (4.200 meter) yang dijadikan base camp, cerita Moch. Fayez, salah satu anggota tim. Dari base camp, perjalanan mengarah ke barat. Tanggal 24 Februari seluruh tim sudah sampai di ketinggian 6.300 meter. Besoknya, tanggal 25 Februari, Norman dan Didiek, berangkat dahulu menuju puncak yang tingginya 6.959 meter. Baru kemudian disusul oleh anggota tim lainnya. Tetapi, pendakian dihentikan ketika sudah sampai di ketinggian 6.550 meter, kurang lebih 409 meter dari puncak Aconcagua, karena terhadang badai. “Padahal kami bertiga baru saja mulai mulai berangkat,” cerita Fayez. Perjalanan turun diputuskan melalui Plaza de Mulas (4.200 meter). Dalam perjalan kembali ke base camp, Fayez mengalami musibah tergelincir hingga bonggol sikunya lepas. Dan, dua anggota tim lainnya, Norman dan Rudi, harus merelakan beberapa jarinya diamputasi.
Satgas Khusus
Sementara itu Ketua BPLK (Badan Pembinaan Lingkungan Kampus) Universitas Indonesia, Harun Gunawan, yang juga staf Pembantu Rektor III UI, mengatakan bahwa pihak UI telah membentuk satuan tugas khusus di bawah pimpinan Purek III Merdias Almatsier sehubungan dengan musibah yang menimpa tim UI itu. Rektor UI Sujudi sendiri saat ini sedang berada di Bangkok, Thailand, sampai Selasa (31/3).Menurut Harun yang dihubungi Kompas di gedung rektorat UI kemarin, satgas ini akan mempersiapkan segala hal tentang musibah itu, termasuk penyambutan jenasah Didiek Samsu, dan pemantauan keadaan Norman Edwin. “Kami terus kontak dengan Kedubes RI di Cile,” katanya. Harun juga mengatakan bahwa setidaknya sampai saat ini pihak UI belum merencanakan untuk mengirim utusan ke Argentina, karena sesuai pesan Dubes RI di Cile, dr Sukarno, saat ini di lokasi kejadian sedang terjadi badai salju berkepanjangan.Lebih jauh, Harun Gunawan juga mengatakan bahwa pihak UI tidak akan mengubah sikap dalam pemberian ijin terhadap kegiatan-kegiatan Mapala UI. Menurutnya, musibah yang telah dialami Mapala UI bukanlah baru sekali terjadi, dan kejadian itu semata kendala alam. “Kalau ada kecelakaan lalu lintas, bukan berarti lalu orang dilarang naik mobil kan ?” katanya memberikan kiasan. (sur/arb)
Norman Edwin Ditemukan Sudah Meninggal
Kompas – Sabtu, 04 Apr 1992
Norman Edwin, anggota Tim Ekspedisi Pendakian Puncak Aconcagua Universitas Indonesia, sudah ditemukan dalam keadaan meninggal dunia di ketinggian 6.600 meter Gunung Aconcagua, Argentina. Berita itu diterima oleh Defensa Sipil Mendoza, dari tim pendaki gunung lainnya, melalui radio komunikasi tanggal 2 April 1992, sekitar pukul 13.15 waktu Argentina, atau hari Jumat (3/4) sekitar pukul 00.15 WIB tengah malam. Tim pendaki gunung yang mengirimkan berita itu, secara kebetulan menemukan jenazah Norman Edwin Dr Jose Ignalio Ortogela, Direktur Defensa Sipil Mendoza, menyampaikan berita itu kepada KBRI di Buenos Aires, Argentina.KBRI di Santiago, Chile, mendapatkan berita itu dari KBRI Buenos Aires. KBRI Chile maupun KBRI Argentina sama-sama mengirimkan berita itu ke tanah air. “Saya mendapatkan kabar ditemukan jenzah Norman dari Buenos Aires. Beritanya, ada pendaki lain yang tidak diketahui kebangsaannya menemukan jenazah Norman Edwin di ketinggian 6.600 meter. Hanya itu beritanya. Dan, belum bisa dikonfirmasi secara rinci,” kata Duta Besar Indonesia untuk Chile, Dr Sukarno Hardjosudarno, melalui telepon, Jumat malam (3/4), sekitar pukul 21.00 WIB.”Ketika saya ke Puente de Vacas, Komandan Tim SAR Argentina tidak menyebutkan kalau masih ada pendaki lainnya yang masih di puncak, karena memang waktu pendakian sudah ditutup tanggal 15 Maret,” ungkap Sukarno menambahkan. KBRI di Buenos Aires setelah mendapatkan kabar itu juga mengutus seorang staf ke Mendoza. “Saya pagi ini segera berangkat ke Mendoza untuk mengurus segala sesuatu yang diperlukan,” kata Medy Djufrie, Sekretaris II, KBRI di Buenos Aires, ketika dihubungi hari Jakarta Jumat (3/4) malam, melalui telepon. Sukarno juga sudah meminta Rudi Nurcahyo, anggota tim ekspedisi yang masih berada di Santiago segera menuju Puente de Vacas atau Puente del Inca untuk melihat pelaksanaan evakuasi jenazah Didiek Samsu yang menurut rencana akan dilaksanakan hari Minggu (5/4) waktu Argentina.
Jenazah Didiek
Didiek Samsu, anggota tim lainnya, lebih dahulu diketahui meninggal tanggal 24 Maret. Jenazah Didiek ditemukan di ketinggian 6.400 meter di Refugio Independenzia. Jenazah Didiek berada di dalam sleeping bag. Salju menutupi separuh tubuhnya mulai dari bagian ujung kaki dan sebagian tubuh dekat wajah. Di dekat jenazah ditemukan kapak es dan termos air yang sudah rusak tutupnya. Carlos Tejerina, pendaki amatir yang menemukan jenazah Didiek, juga menemukan beberapa barang, antara lain tujuh rol film, kompas, altimeter, gaiter dan beberapa tabung gas, di Refugio Berlin (6.000 meter). Carlos juga menemukan jejak menuju jalur Plaza Argentina melalui Gletzer Polacos, yang diperkirakan adalah jejak Norman.Karena itu, pencarian Norman, yang dilakukan oleh Tim SAR Argentina diarahkan di kawasan Plaza Argentina (4.200 meter).Tanggal 26 Maret, pencarian dihentikan karena kawasan dari Plaza Argentina sampai tepi Gletzer Polacos sudah disapu tanpa menemukan tanda-tanda di mana Norman berada. Menurut rencana evakuasi jenazah Didiek baru bisa dilakukan tanggal hari Minggu, tanggal 5 April sambil mencari Norman di jalur pendakian normal. Diperkirakan jenazah Didiek baru tiba di Plaza de Mulas (4.230 meter) hari Sabtu tanggal 11 April. Itupun dengan syarat cuaca memungkinkan melakukan evakuasi. Posko Mapala UI memutuskan akan mengutus Sugihono Sutedjo, anggota Tim Pendakian Puncak Tujuh Benua UI, ke lokasi di Puente del Inca untuk membantu Rudi dan KBRI Argentina, KBRI Chile, koordinasi evakuasi jenazah Didiek dan Norman. Soegihono akan berangkat hari Minggu (5/4). (sur)
Musibah Aconcagua, Evakuasi Jenazah Didiek Diundur Hari Minggu
Kompas – Jumat, 03 Apr 1992
Evakuasi jenazah Didiek Samsu, yang meninggal dalam ekspedisi pendakian Gunung Aconcagua di Argentina, diundurkan hinggga hari Minggu (5/4), dengan syarat cuaca di lokasi cerah. Rencana evakuasi yang semula direncanakan dimulai hari Jumat (3/4)ini (Kompas, 31/3), diundurkan karena Tim SAR yang ada masih menunggu kedatangan tim SAR profesional dari San Juan tanggal 4 April. Demikian berita yang diterima Kompas dari Koordinator Posko Mapala UI, Arianto T, hari Kamis (2/3). Posko Mapala UI menerima berita itu dari Dubes RI di Cile dan Rudi Nurcahyo, anggota tim ekspedisi pendakian Aconcagua yang masih berada di Cile.Jenazah Didiek ditemukan terbujur di dalam kantong tidur di Refugio Independenzia, ketinggian 6.400 meter, tanggal 23 Maret 1992. Waktu itu, salju separuh sebagian tubuhnya dari bagian kaki dan sekitar mukanya. Di dekatnya ditemukan kapak es dan termos air.Letnan Kolonel Juan Antonio Tora, Komandan SAR Argentina menjadwalkan tim evakuasi akan berangkat hari Minggu (5/4) dari Puente de Vacas. Diperkirakan tim tiba di Plaza de Mulas (4.230 meter) hari Senin (6/4), untuk aklimatisasi. Hari Selasa (7/4) tim naik ke Nido Condores, bermalam di situ. Hari Rabu (8/4) tim menuju ke Refugio Berlin (6.000 meter). Baru hari Kamis (9/4), tim evakuasi menuju Refugio Independenzia (6.400 meter) mengambil jenazah untuk dibawa ke Refugio Berlin. Hari Jumat (10/4), jenazah baru diturunkan dari Berlin ke Plaza de Mulas. Hari Sabtu (11/4) jenazah tiba Plaza de Mulas dan langsung dibawa ke Puente del Inca. Dari sana dengan mobil diangkut menuju poliklinik Uspalleta, 60 kilometer dari Plaza de Mulas, untuk pemeriksaan visum et repetum. Selanjutnya, jenazah di bawa ke Mendoza untuk dibalsem dan dimasukkan ke dalam peti.
Pencarian Norman
keterangan Letkol Juan Antonio Tora, sangat kecil kemungkinan Norman Edwin masih Hidup. Tim SAR yang dipimpinnya sudah menelusuri rute pendakian Puente de Vacas-Plaza Argentina-kaki Gletzer Polacos, yang jalur yang diperkirakan diambil Norman, tidak menemukan Norman. Letkol Tora memperkirakan Norman Edwin terperosok ke dalam crevasse, celah-celah es, yang kedalamannya bisa mencapai 10 meter dan selalu berubah-ubah tempatnya. Celah-celah itu pada musim panas mudah terlihat, sedangkan di musim dingin atasnya tetutup salju. Tim SAR sendiri belum menyelusuri daerah itu karena sangat berbahaya, tetapi berjanji akan meneruskan pencarian Norman apabila situasi mengizinkan.Kontak berita terakhir mengenai Norman dan Didiek, yang berangkat menuju puncak tanggal 12 Maret, dari pendaki negara lain yang berpapasan di Refugio Independenzia. Waktu itu, tanggal 19 Maret, Norman mendapat gangguan pada tangannya dan Didiek mengalami gangguan penglihatan.Seharusnya Norman dan Didiek sudah kembali ke Plaza de Mulas tanggal 20 Maret. Karena sampai tanggal itu belum juga kembali, Carlos, pendaki lokal yang berpengalaman dan memiliki lisensi SAR, dengan beberapa kawannya menuju ke atas dan menemukan jenazah Didiek sudah terbujur kaku, tanggal 23 Maret.Pencarian Norman selanjutnya dilakukan oleh enam anggota SAR Argentina pimpiman Letkol Juan Antonio Taro. Tetapi, tanggal 26 Maret karena badai dan di Plaza Argentina, lokasi sasaran SAR, tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan Norman, pencarian dihentikan sementara. Tim SAR Argentina Gendarmarie kemudian mengadakan koordinasi kembali yang juga dihadiri oleh Medy Ch. Djufrie, wakil dari KBRI Argentina. Kalau memang pencarian Norman akan dilanjutkan, menurut perkiraan baru pada bulan November, karena musim mendaki memang antara awal November sampai 15 Maret. Saat itu juga sudah musim panas, jadi salju sudah mencair. (sur)
Evakuasi Terhambat
Kompas – Jumat, 10 Apr 1992
Usaha evakuasi jenazah Didiek Samsu dan Norman Edwin, dua pendaki anggota tim ekspedisi ke Puncak Aconcagua, Argentina, terhambat oleh tebalnya salju di lereng Aconcagua. “Tanggal 8 April (waktu Chile, Red) Tim SAR sudah sampai ke ketinggian 5.200 meter. Ternyata di sana salju tebalnya mencapai 60 sampai 70 centimeter. Terpaksa turun lagi ke Plaza de Mulas,” kata Duta Besar Indonesia untuk Chile, dr Sukarno Hardjosudarno ketika dihubungi melalui telepon hari Kamis malam (9/4) waktu Jakarta atau siang hari waktu Chile.Tanggal 9 April, waktu Argentina, Tim SAR merencanakan kembali naik menuju Refugio Berlin (6.000 meter). Seandainya cuaca baik, Tim SAR tiba di Berlin tanggal 10 April. Hari itu juga Tim SAR menuju ke lokasi jenazah Didiek Samsu di Refugio Independenzia (6.400 meter) untuk melakukan evakuasi jenazah Didiek Samsu dan Norman Edwin (di ketinggian 6.700 meter) dan segera kembali ke Berlin.Jika semua berjalan lancar, tanggal 11 April jenazah sudah tiba di Plaza de Mulas (4.230 meter) dan tanggal 12 April tiba di Puente del Inca untuk divisum di Uspallata. Tetapi, “Ramalan cuaca hari ini (tanggal 9 April siang waktu Chile, Red) memperkirakan akan turun lagi hujan salju. Kalau benar berarti Tim SAR tidak bisa menuju lokasi,” kata Sukarno memperkirakan.Berarti dua pendaki Tim Ekspedisi Puncak Tujuh Benua Mapala UI itu, yang bisa dibilang pendaki terbaik Indonesia saat ini, sampai hari ini sudah 30 hari berada di kawasan Puncak Aconcagua. Norman dan Didiek berangkat melakukan pendakian ulang tanggal 11 Maret 1992 bulan lalu. Tanggal 24 Maret Didiek Samsu ditemukan sudah meninggal di ketinggian 6.400 meter. Kemudian tanggal 2 April Norman Edwin ditemukan oleh rombongan pendaki asing lainnya sudah meninggal di lereng es dengan kemiringan 40 derajat di ketinggian 6.700 meter. Badan Pengurus Mapala UI dan anggota Mapala UI lainnya, hari Sabtu (11/4), pukul 19.30, akan mengadakan doa tahlilan bagi kedua rekan mereka di Masjid Arif Rachman Hakim Kampus UI Salemba. (tom/sur)
Plakat Itu Akhirnya Terpasang Juga
Kompas – Selasa, 26 Jan 1993
Udara di Cementario (pemakaman) Puente Del Inca, Mendoza, Argentina, pagi itu terasa sejuk. Di tengah makam di kaki Gunung Aconcagua itu terlihat sebuah batu karang yang tertutup bendera Merah Putih. Semen di sekitar batu karang itu terlihat masih basah.Satu regu barisan kehormatan militer Ejercito Compania de Casadores Alta Montana B (pasukan ranger pegunungan tinggi) Puente del Inca, Argentina tampak mengelilingi batu karang itu dalam formasi huruf V terbalik. Di depan formasi, berdiri tegak inspektur upacara, Abdullatif Taman, Duta Besar RI untuk Argentina. Dalam sambutannya ia mengatakan, “Misi pendakian Aconcagua bagi generasi muda Indonesiaa telah selesai dengan berhasilnya tim Mapala UI mencapai puncak. Dan kini kami melengkapinya dengan memasang plakat peringatan meninggalnya saudara kami Norman Edwin dan Didiek Samsu. Semoga jasa-jasa mereka diterima di sisiNya.”Kemudian, Dubes RI untuk Argentina beserta rekannya Dubes RI untuk Chile, Soekarno Hardjosudarno, melangkah bersama ke arah batu karang tertutup bendera Merah Putih. Begitu sungkup Dwiwarna itu terbuka, terpampang plakat baja putih yang bertulisan:”In memoriam Didiek Samsu Wahyu Triachdi…Norman Edwin…On Aconcagua Expedition…Mapala University of Indonesia, March, 1992”
***
Upacara khidmat pemasangan plakat baja itu memang tidak sampai satu jam. Namun, untuk bisa memasangnya perlu waktu enam belas hari. Enam belas hari? Ya, dua hari untuk persiapan upacara, sedangkan sisanya adalah waktu pendakian Gunung Aconcagua. Syarat utama agar plakat itu terpasang adalah bendera Merah Putih bisa berkibar di Puncak Aconcagua.Syarat itu memang dibuat untuk memacu diri dalam mendaki Aconcagua. Bagaimana mungkin plakat dapat terpasang sebelum pengorbanan kedua saudara kami dapat tertebus? Pikiran serupa juga terlontar dari rekan-rekan almarhum di Jakarta, saat kami berdiskusi sebelum berangkat melakukan pendakian. Jadi, tugas kami sebenarnya sederhana. Hanya melakukan pemasangan plakat peringatan di pemakaman Puenta del Inca. Namun syaratnya yang berat, mencapai puncak Aconcagua terlebih dahulu.Kami beruntung sebelumnya telah ikut mengevaluasi kejadian musibah yang menimpa kedua rekan kami. Paling tidak sebab-sebab utama terjadinya musibah telah diketahui, dan bisa dihindari. Mengenai cuaca buruk umpamanya, kami berupaya menghindarinya dengan berangkat di awal musim pendakian pada tanggal 24 Desember 1992. Tetapi, tetap saja alam Aconcagua tidak bisa diduga. Tanggal 6 Januari 1993 terjadi badai. Padahal malam sebelumnya laporan cuaca dari radio Chile melaporkan cuaca cerah selama empat hari. Kami yang saat itu berada di Plaza Canada (4.900 m) dalam upaya aklimatisasi (penyesuaian tubuh pada ketinggian) terpaksa turun kembali. Angin dengan kencangnya menggoyang tenda. Tenda yang berbentuk kubah itu sampai hampir rata dengan tanah ditekan oleh angin. Kami tentu tak mau seharian memegangi tenda. Di kemah induk Plaza de Mulas pun kondisinya sama. Sepanjang hari cuaca buruk menghantui. Hari itu, di tengah musim panas, salju turun dengan derasnya. Orang-orang Argentina sendiri heran dengan kejadian ini. Salju putih setebal lebih dari dua puluh centimeter mengalasi kemah induk. Paling kasihan adalah bagal-bagal pengangkut beban. Dalam hawa dingin yang menggigilkan itu mereka masih mendaki ke kemah induk.Hal lain yang mencemaskan di Aconcagua adalah soal aklimatisasi. Tiap pendaki yang pernah mencapai puncaknya selalu mengingatkan. “Rute normal di gunung Aconcagua itu sangat jelas. Itulah sebabnya banyak pendaki yang terlalu cepat mendaki dan melupakan aklimatisasi. Kesabaran sangat berperan di sini,” kata Robert Eckhart, rekan pendaki Belanda yang kami temui di Amsterdam. Nasehat itu kami ingat. Sejak di Puente del Inca di ketinggian 2.700 meter, aklimatisasi kami lakukan dengan rajin. Kami mendaki beberapa puncak kecil setinggi 4.000 meter lebih untuk pemanasan. Bertahap kemudian kami bermalam di ketinggian 3.300 meter di Confluensia sebelum menginjak kemah induk Plaza de Mulas di 4.700 meter.Setiba di Plaza de Mulas upaya aklimatisasi ini makin jadi perhatian. Maklum selama tiga hari di sana, tiap hari selalu saja ada orang sakit turun karena badannya tidak mampu menyesuaikan diri dengan ketinggian. Keluhannya mulai yang hanya sakit kepala ringan, hingga yang dipapah karena menderita radang paru-paru.Pada hari kedua hati lebih ciut lagi. Terdengar kabar bahwa ada satu orang Yunani tewas di Refugio Berlin (5.800 m) dan tiga orang lainnya tidak sadar. Korban ditemukan dalam keadaan “mati putih” (meninggal dalam keadaan tidur kekurangan oksigen).Hari ketiga kami mulai naik ke Plaza Canada di ketinggian 4.800 meter dan tidak merasakan perubahan yang berarti. Bahkan untuk meyakinkan diri kami melakukan joging di Plaza de Mulas. Detak jantung pun normal.Hari ke tujuh kami sudah berada di Nido de Conderes pada ketinggian 5.300 meter. Pada saat itu badan sama sekali tidak merasakan perubahan yang berarti. Karena tidak merasakan perubahan yang berarti kamai terlalu terburu-buru memutuskan untuk mencapai puncak. Semangat untuk menebus pengorbanan Norman dan Didiek terlampau besar. Esok dari Nido de Condores (5.800 m) kami akan melakukan summit attack ke ketinggian 6.959 m. Matahari belum keluar, pukul 7.00 kami sudah jalan. Angin Pasifik dan dinginnya udara menembus jari-jari tangan yang terbungkus sarung tangan wol. Ujung-ujung jari mulai mati rasa. “Ayo jalan terus!” kami berdua saling mengingatkan bila ada yang berhenti untuk menghindarkan dingin.Dengan bergerak terus tubuh jadi hangat, dan matahari mulai menampakkan sinarnya dari balik gunung juga bisa menghangatkan. Jalan ke arah Refugio Independencia (6.400 m) pun mulai tampak.Saat itu terasa kecepatan kami sudah mulai jauh berkurang. Sehingga target tengah hari dapat mencapai Refugio Independencia tidak terpenuhi. Pada pukul 13.30 baru kami mencapai Independencia. Tempat di mana jenazah almarhum Didiek Samsu ditemukan berangin sangat kencang. Kami sempat bertanya dalam hati, mengapa ia memilih tempat berlindung yang berangin seperti ini. Pertanyaan itu tak sempat terjawab karena kami harus memburu waktu untuk ke puncak.Namun serentak dengan itu serangan tipisnya udara sudah mulai tampak. Dalam melangkah terkadang untuk bisa selangkah ke depan harus disertai satu tarikan napas dalam. Kesadaran sudah mulai berkurang. Keseimbangan pun terganggu. Saat melewati jalur salju ke arah sebuah punggungan bukit, hilangnya keseimbangan ini benar-benar terbukti. Jalur yang tak begitu curam itu serasa begitu terjal bagi kami. Kami melangkah dengan begitu hati-hati sekali. Akibatnya hampir satu jam waktu terbuang percuma di jalur itu.Keadaan makin parah menjelang traverse (menyeberang) ke Canaleta, bagian terakhir menjelang puncak. Kami berjalan di tempat datar, namun serasa gamang sekali. Hingga terpaksa kami memakai crampoon (cakar es) untuk meyakinkan diri agar tidak terjatuh. Keputusan memakai Crampoon ini membuang waktu hampir setengah jam. Dalam keadaan biasa, crampoon bisa terpasang tak sampai lima menit. Namun kali ini dengan kesadaran makin berkurang, setengah mati rasanya memasang crampoon.Akhirnya pukul lima sore kami tiba di kaki Canaleta. Dengan pandangan tak pasti kami tatap ke atas. Medan dengan kemiringan lebih dari tempat puluh lima derajat, dipenuhi oleh longsoran salju dan batu setinggi tiga ratus meter terhampar di depan mata.Rasanya dengan kondisi tubuh melemah setelah beraktifitas lebih dari sepuluh jam di ketinggian lebih dari 6.000 m, melewati Canaleta adalah hal yang sangat riskan. Kami sepakat untuk turun, walaupun waktu musim panas di Aconcagua menyisakan terang hingga pukul sembilan malam. Pelajaran hari itu sangat mahal. Kami rupanya harus bersabar dengan menambah ketinggian di Refugio Berlin. Dan kondisi badan pada ketinggian rasanya makin hari makin baik. Pada hari summit attack ke dua kami benar-benar lebih siap.Kami berangkat lebih pagi. Tak sampai empat jam kami sudah di Independencia. Ada dua orang Chile yang mendaki terlebih dahulu berhasil kami susul. Selebihnya kami berkutat di Canaleta selama empat jam. Akhirnya pukul 14.20 Ripto Mulyono berhasil mengibarkan Merah Putih pertama kali di Aconcagua. Syarat pemasangan plakat peringatan Norman Edwin dan Didiek Samsu terpenuhi sudah.(Ripto Mulyono/Tantyo Bangun, keduanya anggota Tim Mapala UI yang berhasil mencapai Puncak Aconcagua) Menolong Korban Aconcagua – Mengapa Tidak Menggunakan Helikopter? Mon, 18 Apr 2005 18:28:09 -0 700 Didiek Samsu dan Norman Edwin, pendaki gunung Indonesia, mendapat musibah dan meninggal di Puncak Aconcagua. Sulit dan lama proses membawanya turun. Mengapa harus menggunakan kereta salju atau seekor bagal ? Mengapa tidak diangkat saja dengan helikopter ? Dua pendaki Indonesia itu ditemukan meninggal di puncak Gunung Aconcagua, Argentina, Amerika Selatan, pada ketinggian dan waktu yang berbeda. Didiek Samsu ditemukan 23 Maret pada ketinggian 6.400 m dan Norman Edwin ditemukan 2 April di ketinggian 6.600 m. Beda 200 m di ketinggian hampir 22.000 kaki. Pada ketingian 22.000 kaki itu, tebing dan lereng Aconcagua yang terjal sudah banyak diselimuti salju. Tebal salju mencapai 50-60 cm.Di tempat itulah dua pendaki Mapala UI yang sebelumnya dinyatakan hilang, ditemukan tewas oleh tim SAR Argentina, Patrulla Socorro. Mencari hilangnya kedua pendaki Indonesia itu sebelumnya menjadi pokok persoalan. Patrulla Socorro berhasil menemukan korban, meskipun harus agak lama. Memang bukan mudah mencari di antara tebing dan jurang bersalju itu. Dan setelah itu persoalan baru timbul. Bagaimana membawa kedua jenazah itu turun? Semula, banyak orang mengira bahwa untuk membawa turun jasad Didiek dan Norman, bukan soal lagi. Apalagi di zaman modern saat ini.Terbangkan helikopter ke sana, mendarat atau hovering di tempat kejadian, masukkan korban ke kabin dan terbang lagi ke bawah. Selesai. Itu perkiraan. Tetapi kenyataannya tidak semudah itu. Karena ternyata helikopter memiliki kemampuan terbatas dan tidak mampu terbang kepuncak Gunung Aconcagua. Ada dua sebab utamanya, kemampuan helikopternya dan kemampuan awak pesawatnya. Mengapa sulit ? Keadaan udara pada ketinggian 6.600 m atau hampir 22.000 kaki dihitung dari permukaan laut, entah itu di puncak gunung atau di awang-awang,bukanlah keadaan yang menguntungkan bagi manusia maupun helikopter. Manusia, siapa saja, akan terpengaruh. Pada ketinggian 22.000 kaki itu keadaan tekanan udara sudah menjadi kurang dari separo tekanan di permukaan laut, menjadi 335 mmHg. Kadar oksigennya sudah sangat tipis, persentasenya sangat kecil dibandingkan kadar oksigen di darat.
Suhunya ? Sudah sangat dingin, 24,6 derajat Celcius di bawah nol, atau minus (-) 24,6 derajat. Tekanan parsiel gas oksigen tinggal 80 mmHg atau setengah tekanan oksigen di darat. Tekanan di permukaan laut 760 mmHg dan tekanan parsiel O2-nya 160 mmHg dengan berat udara 14,7 pon per square inch (PSI). Pada keadaan itu, orang tidak akan tahan tanpa bantuan alat, seperti selimut/baju tebal atau masker oksigen untuk membantu pernafasan. Dan situasi udara setengah atmosfir ketinggian 18.000 ?€“ 20.000 kaki itu dijadikan standar untuk menguji penerbang maupun calon penerbang, karena situasi udara di tempat itu sama dengan setengah atmosfir. Tekanan parsiel gas oksigen tinggal 80 mmHg atau setengahnya tekanan oksigen didarat. Dalam ujian kemampuan calon penerbang di Lembaga Kesehatan Penerbangan dan Ruang Angkasa (Lakespra) ?€?dr. Saryanto?€™, para calon dimasukkan ke dalam altitude chamber. Mereka duduk berderet dan diberi persoalan. Soal hitungan itu bentuknya sangat sederhana dan sangat mudah seperti 2+2, 3+2, 4+3 dan sejenisnya. Setelah mereka siap, kemudian ruang dibuat sama dengan kondisi pada ketingian 18.000 kaki.Semua calon mulai mengerjakan soal yang ada di tangannya. Tidak lebih dari 20 menit. Apa yang terjadi? Pengaruh ketinggian mulai nampak. Sebagian besar mereka tidak mampu mengerjakan dengan benar soal hitungan kelas 1 SD permulaan itu. Malah ada yang linglung, dipanggil diam saja. Mereka sudah tidak mampu menguasai diri. Itulah tanda-tanda ia terkena hipoksia, kekurangan gas oksigen. Secepatnya petugas ruang (yang selalu mengenakan masker oksigen), membantu calon tersebut menggunakan masker oksigen yang tersedia didepannya, sebelum calon penerbang itu jatuh pingsan. Keadaan seperti itu pun terjadi di puncak gunung, seperti Aconcagua yang tingginya lebih 18.000 kaki. Karena itulah maka pendaki gunung pun harus melakukan uji kemampuan dalam altitude chamber seperti para calon penerbang. Sama halnya dengan orang terbang di awang-awang terbuka, maka menuju ketinggian dengan cara mendaki gunung, akan terkena pengaruh ketinggian. Bedanya, bila dengan pesawat terbang, reaksi pengaruh berlangsung cepat karena pencapaian ketinggian dapat dilakukan dengan cepat. Bagi pendaki gunung, untuk mencapai ketinggian seperti Aconcagua itu ditempuh dalam beberapa hari, sehingga selama perjalanan, penyesuaian dengan keadaan lingkungan berlangsung. Namun, apa pun cara mencapai ketinggian itu, daerah di ketinggian di atas 18.000 kaki bukanlah tempat hidup manusia. Karena di sana atmosfir memiliki keadaan yang tidak lengkap, kurang dari separo keadaan di darat tempat habitat manusia. Rendahnya tekanan parsiel gas oksigen menyebabkan tekanan parsiel dalam paru-paru juga menjadi rendah, akibatnya orang akan kekurangan oksigen, hypoxia. Seseorang yang berada pada situasi yang tekanan parsiel gas O2-nya turun 25 persen saja, akan terkena pengaruh menurunnya kecerdasaan berfikir. Karena itulah, maka suatu penerjunan bebas yang tanpa menggunakan masker oksigen, hanya boleh dilakukan dari ketinggian terbang maksimum 10.000 kaki, batas toleransi manusia pada ketinggian.Cepat lambatnya seseorang terpengaruh hipoksia, tergantung pada kondisi tubuh, umur, latihan, aktifitas tubuh, kepekaan seseorang serta pengalaman terhadap pengaruh hipoksia (lihat tabel). Semakin tinggi, orang lebih cepat terkena pengaruh hipoksia. Pada ketinggian 50.00 kaki atau 15.240 m dengan suhu (-) 56,5 derajat Celcius dan tekanan parsiel oksigen yang tinggal 20 mmHg, maka orang hanya bisa bertahan tidak lebih 10 detik saja. Mengapa heli tidak bisa ? Suatu proses pertolongan korban kecelakaan pesawat terbang di gunung yang tingginya 5.000 kaki, terkadang mengalami kesulitan. Bukan helikopternya yang tidak mampu, tetapi justru keadaan cuaca yang seringkali tidak mendukung. Helikopter terbang pada ketinggian 5.000 kaki masih bisa dilakukan. Tetapi terbang pada 22.000 kaki seperti di Gunung Aconcagua, adalah persoalan. Helikopter bisa terbang karena timbulnya gaya angkat pada baling-baling rotor yang berputar. Karena itulah maka helikopter disebut juga rotary wing. Dan untuk mampu mengangkat helikopter beserta isi kabinnya, diperlukan tenaga gaya angkat yang besar. Di daerah rendah, gaya angkat mudah terjadi, karena udara yang padat. Dengan gaya angkat yang besar itu, maka helikopter mampu malakukan hovering, melayang di tempat, untuk melakukan pertolongan beberapa menit. Untuk hovering diperlukan gaya angkat yang lebih besar dari pada gaya yang diperlukan untuk terbang biasa. Di ketinggian 22.000 kaki, helikopter tidak akan mendapatkan gaya angkat yang diperlukan, karena renggangnya udara. Apalagi untuk hovering yang mesti dilakukan sebuah helikopter di saat akan take-off, waktu mendarat atau sedang menolong korban di daerah yang sulit. Karena tidak selalu bisa mendarat, maka digunakan cara hoist, menurunkan dan menaikkan penolong serta korban melalui kabel baja penarik yang dipasang di sisi kiri/kanan helikopter. Dengan cara ini mengharuskan helikopter melakukan hovering. Masalah lain adalah awak pesawat dan tim penolongnya. Mereka tidak akan mampu berlama-lama di ketinggian 22.000 kaki tanpa bantuan oksigen. Mereka juga harus menjaga diri agar tidak hipoksia. Sulit memang. Itulah sebab mengapa helikopter tidak digunakan dalam pertolongan di Gunung Aconcagua. Tingginya tempat, kencangnya angin di puncak, sampai 240 km/jam dan badai salju, membahayakan siapa saja yang ada di sana termasuk helikopter. Karena itu, mereka memilih menggunakan kereta salju dan bagal. (soe)
Norman Edwin 1955 – 1992
Norman Edwin sosok pecinta olahraga petualang yg pernah ada di Indonesia, di kenal sebagai pribadi yg pemberani dan suka menolong oleh keluarga dan teman2nya sesama jurnalist Kompas, tempat terakhirnya bekerja. Norman tewas di usia 37 tahun bersama rekan satu teamnya Didiek Samsu Wahyu Triachdi saat pendakian Puncak Aconcagua (6969m), pegunungan yang membentang sepanjang perbatasan Chile – Argentina, saat itu ia tergabung dalam Seven Summit Expedition 1992 – Mapala UI. Didiek juga tercatat sebagai wartawan di Majalah Jakarta Jakarta. Indonesia berduka, musibah menimpa Expedisi Seven Summit pada pertengahan April 1992 merenggut dua orang pendaki terbaiknya, Norman Edwin dan Didiek Samsu Wahyu Triachdi. Media nasional dan international banyak meliput kejadian tewasnya dua pendaki ini. Norman saat itu memimpin Team Pecinta Alam Universitas Indonesia yang tergabung di Mapala UI dalam upayanya mendaki Puncak Aconcagua 6959-mtr Chile. Gunung yg disebut juga ‘The Devil’s Mountain’ karena faktor cuacanya tak bisa diprediksikan, sering kali badai salju melanda pegunungan selama berhari hari. Puncaknya dijadikan tujuan karena menjadi salah satu Puncak Tertinggi dalam Expedisi Tujuh Puncak Dunia Mapala UI. Berbekal pengetahuan dalam Penelusuran gua, Pendakian Gunung, Pelayaran, Arung Jeram serta sejumlah pengalaman Rescue di Irian Jaya, Kalimantan, Africa, Canada bahkan Himalaya, membentuk kecepatan dan kekuatan phisik pada dirinya yang telah bergabung di Mapala UI sejak tahun 1977. Sampai akhirnya terpilih menjadi Leader dalam Expedisi ini bersama Didiek, Rudy “Becak” Nurcahyo, Mohamad Fayez and Dian Hapsari, satu2nya wanita dalam team tersebut. Sebetulnya banyak meragukan kemampuan Norman, jauh hari sebelum Expedisi ini di mulai, namun pengalamannya selama 15 tahun dalam berpetualang serta menghadapi berbagai bahaya, diyakini membuatnya tetap berangkat. Saat expedisi berlangsung, badai salju menghantam Team ini dan akhirnya merenggut duet pendaki ini. Jenazah Didiek adalah yang pertama ditemukan pada tanggal 23 Maret atas laporan beberapa pendaki negara lain yang kebetulan melihat mereka berdua terakhir di ketinggian 6400m, beberapa ratus meter lagi sebelum Puncak. Dilaporkan pula saat itu, kondisi keduanya terlihat sangat kritis, beberapa jari Norman terkena Frosbite (Mati Beku karna Dingin) dan Didiek menderita Snow Blindness (Buta Salju) akibat pancaran sinar matahari yang berlebihan, memantul di hamparan salju dataran tinggi. Kemungkinan hal ini sangat mendekati karena Google (Kacamata Salju) yang dipakai Didiek rusak berat. Jenazah Norman ditemukan beberapa hari kemudian dan langsung diterbangkan ke Jakarta pada tanggal 21 April 1992. Spekulasi merebak melalui media massa bahwa kegagalan mereka juga diakibatkan karena minimnya pelaralatan yang dibawa. Aconcagua terpilih setelah Mapala UI merencanakan Expedisi Tujuh Puncak Dunia lainnya yaitu Cartenz Pyramid (4,884 meters) di Irian Jaya; McKinley (6,194 meters) di Alaska, Amerika Serikat; Kilimanjaro (5,894 meters) in Tanzania, Afrika; dan Elbrus (5,633 meters) di Uni Soviet, (sekarang Rusia). Setahun kemudian setelah tragedi ini, Mapala UI yang status keanggotaannya berlaku seumur hidup ini, mencoba mengirim kembali dua anggota lainnya yaitu Tantyo Bangun dan Ripto Mulyono untuk menyelesaikan pendakian sekelas Expedisi Aconcagua ke Vinson Massif (4,887 meters) di Kutub Selatan. Dan satu lagi Puncak Everest di Himalaya dengan nama Team Expedisi Universitas Indonesia, namun sayang kegagalan juga menimpa team ini. Dua kegagalan rupanya tidak menyurutkan semangat Mapala UI, karna puncak terakhirnya tetap dijadikan target bagi Expedisi Gabungan selanjutnya yang terdiri dari Mapala UI, Koppassus dan Wanadri. ‘Kami berusaha melakukan pendakian gabungan ke Everest tahun 1997 dan sukses, dua anggota team dari prajurit Koppassus yaitu Asmujiono dan Misirin berhasil mencapai Puncak Everest.’ ujar Rudy “Becak” Nurcahyo anggota Indonesian National Team to Everest yang juga kehilangan jarinya karna Frosbite di Expedisi Aconcagua. “Kami mencoba yang tebaik untuk mewujudkan itu semua.. dan saya percaya Norman dan Didiek pun akan tersenyum disana melihat keberhasilan Team Everest ini. walaupaun setelah tahun 1997, Indonesia dilanda krisis ekonomi kemudian masa reformasi yang tak lama berselang. Keadaan ini otomatis ini menghambat Expedisi-expedisi selanjutnya yang telah direncanakan”, tambahnya. Bagi istri Norman, Karina serta Melati putrinya, sosok hangat dan eksentrik Norman akan tetap menjadi kenangan yang takkan terlupakan. Semasa hidup, Melati selalu diajak serta dalam kegiatan alam bebas yang digeluti ayahnya itu, termasuk perjalanan ke Irian Jaya saat ia masih kecil. “Norman menjadi seorang petualang sejati dan sedikit bandingannya diantara pendaki-pendaki yang ada sekitar tahun 1970-80, dan Didiek adalah teman dekatnya. Ia tunjukkan rasa hormatnya kepada wanita dan yakin bahwa wanita dapat mengerjakan sesuatu yang lebih baik daripada pria, apalagi menyangkut faktor keselamatan, contohnya Penulusan Gua”, papar Karina yang dulu juga aktif dalam kegiatan alam bebas sekembalinya dari Australia dan mengambil kuliah lagi jurusan Arkeologi di Universitas Indonesia. “Norman pernah mengatakan, aktivis alam wanita cenderung lebih tenang, tidak mudah panik dan dapat mengatasi situasi darurat jika dibandingkan dengan pria. Bagi saya ia sangat humoris dan mempunyai semangat hidup yang tinggi. Begitu pula yg rasakan Melati, sifat ayahnya ini menurun kepadanya walaupun ia masih berusia remaja. Janganlah kita mencoba menaklukkan ganasnya alam, tapi belajarlah untuk menaklukkan ego serta mengetahui batasan diri kita sendiri, faktor ini adalah yang terpenting jika ingin menekuni olahraga beresiko tinggi” ungkap Karina yang dulu juga ikut dalam team di Expedisi Cartenz Irian Jaya tahun 1981 dan saat ini telah menyelesaikan program Doctoralnya di Australian National University. Norman dan Didiek telah tiada, namun spiritnya kuat meresap di hati para pecinta olahraga alam bebas Indonesia. Penghargaan patut mereka terima atas keberanian dan semangat pantang menyerah, sehingga dapat dijadikan contoh bagi petualang2 muda lainnya yang masih ada. So long my friend. We’ll see you up there… Sumber : The Jakarta Post / (Edith Hartanto)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Selamat datang di sites resmi MTs MA'ARIF Sidomulyo Kebonagung Pacitan Jawa Timur. Terima kasih telah berkunjung di sites kami .....! Semoga kunjungan anda dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda tentang madrasah kami!!! Copyright 2014 by Loco Citato - NDOROGURU